Mahasiswa Prodi BKI dan PMI FDIK: Ketika Teori Berlabuh pada Tangan Peduli
Padang - Ketika
hujan lebat dan bencana alam mengguncang kawasan permukiman di RT 06/RW 01
Surau Gadang, kepedulian muncul bukan hanya dari masyarakat tetapi juga dari
kampus. Pada hari Sabtu itu, mahasiswa angkatan 2023 dari Program Studi
Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) dan Program Studi Bimbingan dan Konseling
Islam (BKI), Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) UIN Imam Bonjol Padang,
turun tangan membantu warga terdampak. Mereka datang bukan untuk liputan tetapi
untuk membantu dengan tenaga, empati, dan tanggung jawab nyata.
Dari Bangku Kuliah ke Tengah Lumpur
- Empati dalam Tindakan
Mahasiswa yang semula hanya mengenal teori di ruang kelas, kini
harus berhadapan langsung dengan realitas: rumah berselimut lumpur, tangis
warga, dan kebutuhan mendesak. “Waktu saya injak tanah di Surau Gadang, udara
gaduh tapi hati ini tenang karena saya tahu ini bukan tugas biasa, ini
panggilan kemanusiaan,” ujar salah satu mahasiswa PMI angkatan 2023 saat membagikan sumbangan air bersih dan
membersihkan puing-puing.
Bagi mereka, pelajaran dari mata kuliah seperti Manajemen
Penanggulangan Bencana, BK bencana, dan Psikologi Bencana yang dibimbing oleh
dosen Dr. Wanda Fitri, M.Si dan Siska Novra Elvina, M.A, bukan sekedar teori
akademik. Ilmu itu sekarang diuji langsung di lapangan: bagaimana membantu
korban bencana, bagaimana memberi kenyamanan psikologis, dan bagaimana menjadi
bagian dari solusi di tengah penderitaan bukan penonton.
Seorang mahasiswi BKI, Angelia, tampak berurai air mata ketika membantu ibu-ibu menyingkirkan sisa lumpur di ruang tamu mereka. “Saya belajar di kelas bahwa peran konselor bukan hanya memberi nasehat, tapi hadir, mendengar, menenangkan. Saat ini, saya pegang itu dan saya merasa berguna,” katanya.



Dosen & Koordinasi - Pilar di Tengah Krisis
Koordinasi lapangan dilakukan oleh dosen PMI, Ahmad Maulana
Anshori, M.Sos, sosok yang selama ini dikenal mendidik mahasiswa agar peka
terhadap masalah sosial. Bersama mahasiswa, ia turun langsung ke Surau Gadang,
membagi tugas: sebagian membantu evakuasi, sebagian membantu pendataan korban,
dan sebagian memberikan pendampingan psikososial.
“Ilmu di kampus
tidak akan berarti apa-apa jika tidak dibarengi dengan hati dan empati. Kita
kuliah untuk umat, bukan untuk ego. Hari ini, kita buktikan bersama,” ujarnya
sambil membagi makanan dan air mineral kepada warga.
Keberadaan dosen
seperti Dr. Wanda Fitri dan Siska Novra Elvina juga penting, walau mereka tidak
selalu hadir fisik di lokasi, ajaran dan nilai-nilai kemanusiaan yang mereka
tanamkan di kelas tercermin pada sikap mahasiswa. Pendidikan di FDIK, melalui
mata kuliah konseling dan manajemen sosial, membentuk mahasiswa tidak sekadar
intelektual, tetapi manusia yang peduli, responsif, dan bertanggung jawab.
Solidaritas yang
Membumi : Kampus dan Masyarakat Menjadi Satu
Kolaborasi antara mahasiswa, dosen, masyarakat dan unsur lokal
menunjukkan bahwa dalam bencana, perbedaan peran tak jadi sekat, melainkan
kekuatan untuk bangkit bersama. Sedikit demi sedikit, rumah-rumah warga
dibersihkan lumpur disingkirkan, harapan perlahan bangkit.
Seorang warga lansia, Pak Ahmad (65), dengan suara bergetar
berkata sambil menahan tangis: “Anak-anak muda ini datang bukan ajang foto,
bukan ajang pamer. Mereka membantu kami, yang bahkan tidak tahu bagaimana
memulai bersih rumah. Terima kasih… demi Tuhan, kami sangat bersyukur.”
Momen itu menjadi saksi bahwa kampus bukan sekadar institusi
akademik, tetapi pusat nurani dan kemanusiaan.
Pendidikan yang
Bermakna, Lebih dari Sekadar Gelar
Melalui aksi ini, UIN Imam Bonjol Padang membuktikan bahwa
pendidikan bukan tentang skripsi atau nilai, tapi tentang membentuk insan yang
peduli dan berguna untuk sesama. Bagi mahasiswa angkatan 2023, pengalaman Surau
Gadang adalah pelajaran luhur yang tak akan hilang saat mereka memasuki dunia
profesional. Empati yang dibangun hari ini: semoga akan menjadi kompas moral di
masa depan.
Bagi kampus, diharapkan semangat ini terus terpelihara, agar UIN Imam Bonjol tidak hanya dikenal sebagai pusat ilmu, tetapi juga sebagai rumah bersama yang hadir di saat masyarakat membutuhkan. Dan bagi kita semua, semoga kisah ini mengingatkan bahwa dalam bencana, yang paling dibutuhkan bukan hanya bantuan material, tetapi kehadiran, empati, dan tangan-tangan tulus yang siap membantu.
(Siska Novra Elvina)

